Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Rabu, 21 September 2011

DEWASA YANG KANAK-KANAK


Sahabat, ketika qt berusia dibawah 5 tahun, biasanya disebut Masa Balita.
Kemudian beranjak sampai usia 10 tahun, disebut Masa Kanak-kanak.
Lalu beranjak lagi sampai usia 15 tahun, disebut Masa Teruna atau Masa Tanggung.
Bergerak ke usia 20 tahun, disebut Masa Remaja.
Selanjutnya ketika berjalan sampai usia 30 tahun, ini disebut Masa Pemuda.
Dan setelah usia 30 menuju usia 50 tahun, disebut Masa Dewasa.
Terakhir setelah usia 50 tahun, disebut Masa Tua.

Selasa, 20 September 2011

BERKECUKUPAN

Dikisahkan ada seorang petani yang hidup sendiri disebuah rumah yang sederhana. Istrinya telah lama berpulang ke Rahmatullah, sedangkan anak-anaknya, masing-masing telah berumahtangga. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari selain ia bekerja sebagai seorang petani bayaran, ia juga merawat kambing-kambing milik tetangganya.

Sabtu, 17 September 2011

ELIMINASI AKHIRAT

Seorang Petani bunga Tulip, memiliki ladang bunga yang maha luas. Seperti kita ketahui Tulip adalah bunga yang hanya tumbuh di daerah yang khusus. Bunga ini memerlukan perhatian dan perawatan yang lebih dari jenis bunga lainnya.

Kamis, 15 September 2011

PROFIL RASULULLAH

Sebagai seorang muslim, kita tentunya rindu berjumpa dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Rasa rindu yang tebal sering melahirkan pertanyaan, “Seperti apa ya, wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam?

Berikut ini saya mencoba menuangkan beberapa hadits, yang mengisahkan wajah dan perawakan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Semoga walau hanya lewat untaian kata, kita dapat menggambarkan profil Beliau. 

Selasa, 13 September 2011

MUADZIN RASULULLAH YANG BUTA

Siapakah laki-laki itu, yang karenanya Nabi Muhammad saw mendapat teguran dari Allah dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya, Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah ke dalam hati Rasulullah saw? Dia adalah Abdullah bin Ummi Maktum, muadzin Rasulullah.

Abdullah Ummi Maktum adalah orang Mekah, dari suku Quraisy. Ia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasulullah, yakni anak paman Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid ra. Ayahnya Qais bin Zaid, dan ibunya Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar “ummi maktum”, karena anaknya, Abdullah, lahir dalam keadaan buta total.

PERMOHONAN SI MISKIN DAN SI KAYA

Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa as. Ia begitu miskin, pakaiannya compang-camping, sangat lusuh dan berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah swt permohonanku ini, agar aku bisa menjadi kaya." Nabi tersenyum dan berkata, "Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah." 

Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, "Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan jarang dan pakaian yang ku gunakan pun hanya satu lembar ini saja.” Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. 

NABI SULAIMAN AS & SEEKOR SEMUT

Suatu hari, ketika Nabi Sulaiman as sedang berjalan-jalan. Nabi melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Nabi terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan bertanya, ”Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu? Sang semut menjawab, ”Ini adalah kurma yang Allah swt berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun”. 

KEHILANGAN AKHIRAT

Seorang Cendekiawan atheis menumpang perahu ketika hendak menyebrang ke pulau. Di dekatnya duduk seorang yang senang ibadah. Ia bertanya pada tukang perahu seraya melirik ke ahli ibadah tersebut.
“Sobat, pernahkan Anda mempelajari Matematika?”
“Tidak” ujar tukang perahu tersebut.
“Bagaimana dengan anda pak ustadz?” Tanyanya juga. Pak ustadz tersenyum.
“Sedikit.” jawabnya
“Sayang sekali, berarti Anda berdua telah kehilangan seperempat dari kehidupan Anda.”ucapnya menghakimi.

NENEK PEMUNGUT DAUN

Ketika kami berziarah ke Madura, tepatnya ke kota Bangkalan, kami bermalam di Makam KH. Muhammad Kholil bin KH Abdul Latif. Bukan main para peziarah yang datang, seperti tiada habis-habisnya. Dari pagi hingga malam, lalu dari malam hingga pagi lagi, pokoknya 24 jam non stop. Para peziarah yang datang kebanyakan justru dari luar Madura. Ada yang dari pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan bahkan dari Sumatera dan Maluku. Mereka datang dengan bus-bus besar, ada juga memakai sedan atau motor, tapi itu hanya beberapa saja.

Setelah menunaikan sholat Maghrib, kami duduk-duduk santai di warung kecil tepat didepan Masjid sekaligus Makam Mbah Kholil. Sembari menikmati camilan yang ada di warung, kami terlibat percakapan dengan pemilik warung. Sambil melihat keramaian para peziarah yang baru datang dan yang akan pulang, pemilik warung bercerita banyak kepada kami, mulai dari kakeknya yang merupakan santri Mbah Kholil sampai para peziarah yang dikenalnya rutin datang ke Makam Mbah Kholil.
Dari sekian cerita pemilik warung, ada satu cerita yang kami rasakan sangat dalam hikmahnya bagi kami. Dan cerita inilah yang ingin saya bagikan kepada sahabat sekalian.

Senin, 12 September 2011

DOSA YANG LUMRAH

Sahabat, ternyata dari sekian dosa yang qt buat, sadar atau tidak, diantaranya ada empat perbuatan yang tanpa disadari telah menjadi kebiasaan dan sangat sulit sekali di hilangkan. Saking sudah terbiasa, empat perbuatan tersebut seolah-olah telah menjadi lumrah. Parahnya, bila hal itu terjadi, qt sering mengatakan dengan mudahnya, “Maklum, namanya juga manusia”. ASTAGHFIRULLAAHAL ADHIIM… 

ALLAH MAHA MENDENGAR SEGALA DO'A


Sebenarnya kisah ini adalah sebuah ilustrasi saja. Namun hikmahnya sungguh sangat mendalam.

Seorang gadis kecil sambil berteriak dan menangis ketakutan berlari sekuat tenaga, sementara dibelakangnya seekor angsa yang kelihatan marah, mengejar gadis kecil itu sambil menjulur-julurkan lehernya, hendak 'menyosor' gadis kecil tersebut.

SIAPA ENGKAU?

Seorang ibu paruh baya yang sedang sakit keras, tengah berjuang melampaui masa kritisnya. Dalam masa kritis tersebut, ia mengalami koma. Pada keadaan itu, tiba-tiba ia merasa tengah berada didepan sidang pengadilan dirinya.
”Siapa engkau itu?”, sebuah suara bertanya kepadanya.
“Aku ini istri lurah”, jawabnya.
“Aku tidak bertanya kepadamu, engkau istri siapa, tetapi engkau itu siapa?” “Aku ibu dari empat orang anak.”
“Aku tidak bertanya, engkau ibunya siapa, tetapi siapa engkau itu?”
“Aku seorang guru di sekolah.”
”Aku tidak menanyakan pekerjaanmu, tetapi siapa engkau itu.”


DOSA PALING BESAR

Dikisahkan ada seorang perempuan cantik dengan wajah penuh rasa bersalah datang kerumah Nabi Musa as, disuatu senja. Setelah mengucapkan salam diketuknya pintu dengan hati yang penuh ketakutan. Nabi kemudian membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.

Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Allah berkenan mengampuni dosa keji saya."

TAKUT MISKIN DI AKHIRAT

Setiap manusia didunia tidak bisa melepaskan diri dari kebutuhan badaninya. Hal ini akan terasa berat bila tidak didukung dengan pekerjaan yang memberikan penghasilan yang cukup, apalagi bila ditambah dengan status telah berkeluarga. Maka persoalan kebutuhan akan semakin menjadi beban seseorang. Belum lagi kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak pernah menurun harganya. Setiap waktu harga-harga tersebut terus meningkat.

Kisah ini terjadi pada seorang pemuda, sebut saja Fahmi. Ia telah berkeluarga dan dikaruniai 2 orang anak yang masih kecil. Kesulitan memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya membuat ia mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Walau demikian, ia adalah seorang laki-laki yang tekun beribadah. Ia rajin menjalankan shalat wajib lima waktu serta sholat-sholat sunnah lainnya.

MASIH ADA KERETA LAIN


Stasiun Kereta Api Pasar Minggu di suatu malam yang tengah diguyur hujan, ketika itu q sedang menunggu kereta api jurusan Bogor. Tidak berapa lama datang sebuah kereta jurusan Depok dan turunlah seorang wanita tua dan berjalan perlahan ke arah q. Setelah terdiam beberapa saat nenek itu berbicara kepada q, “Hujan dari tadi tidak reda juga ya? Semoga tidak lama lagi berhenti.” Q hanya membalasnya dengan senyum.

KEIKHLASAN SANG MARBOT


Sebuah perbuatan akan bercahaya bila berbahan bakar keikhlasan. (HR Tarmidzi)


Kisah ini diawali dengan kegiatan rutin bulanan di padepokan IlhamTaqwa, yaitu berziarah ke Makam para Waliullah. Ketika itu kami singgah disebuah Masjid sederhana dipinggir jalan untuk beristirahat dan menunaikan shalat Dzuhur. Layaknya orang yang mau sholat, kami mencari kamar mandi dan tempat wudhu. 

Tepat didepan pintu kamar mandi, salah seorang teman kami, tiba-tiba melihat seseorang lelaki yang seperti dikenalinya. Untuk sementara dia tertegun. “Tidak salahkah penglihatanku. Itukan Soleh, teman SMP yang terkenal sangat pintar?” tanyanya pada diri sendiri. Untuk beberapa saat teman kami mengamati Soleh yang tengah membersihkan kamar mandi dan tempat wudhu. Lelaki itu berpakaian khas marbot masjid; kaos , celana buntung, dan kupluk haji yang menempel di kepalanya.
Namun karena waktu sholat Dzuhur hampir habis, ditundanya niat untuk menegur teman lamanya tersebut.

Teman kami ini selanjutnya ku sebut Sofyan, setelah melaksanakan sholat Dzuhur, segera ia kembali ke kamar mandi. Ternyata teman SMP-nya masih berada disana dan tengah mengepel.
“Assalamualaikum…,” sapa Sofyan dengan hati-hati, khawatir salah kenal. Ternyata penglihatannya tidak salah, lelaki yang disapa benar-benar Soleh. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan, maklum lama tidak jumpa. Selanjutnya mereka berdua terlibat percakapan.

Selang beberapa saat, Sofyan kemudian bertanya, “Leh, sampean kan terkenal pintar waktu sekolah dulu, malah selalu mendapat ranking. Kok mau jadi marbot?”
Sambil tersenyum Soleh menjawab, “Memangnya ada yang salah dengan pekerjaan ini? Bukannya malah bagus. Disamping ibadah dan berpahala, masjid ini-pun jadi bersih. Nah, kalau bersih, yang shalat ikut jadi senang dan betah. ”
“Tapi..., penghasilannya kan tidak sepadan”, sanggah Amir.
Sambil me-lap dinding tempat wudhu, Soleh hanya membalas dengan senyum.

Terlintas dipikiran Sofyan untuk mengajak Soleh bergabung pada usaha pembuatan tahunya.
“Gimana kalau sampean ikut saya?”
“Maksudnya?”
“Ya, kerja sama saya. Sampean nanti saya gaji, pastilah lebih besar dari gaji sebagai marbot. Tapi ngomong-ngomong sampean digaji ndak, sih?”
“Ndak.”
“Wuah, apalagi. Sudah kerja sama saya saja, ya. Pendidikan terakhir?”
“Sarjana Elektro.”
“Waduh, tambah ndak pantas. Mosok sarjana elektro jadi marbot.”

Saking asyiknya mereka bercakap-cakap, tidak terasa sudah waktunya untuk adzan Ashar. Soleh-pun berpamitan sebentar untuk melakukan adzan Ashar. Sepeninggal Soleh, Sofyan kemudian duduk ditangga masjid sambil termangu-mangu memikirkan nasib teman lamanya tersebut. 

Tiba-tiba duduklah seorang anak muda disisi Sofyan dan langsung bertanya, ”Maaf pak, Bapak kelihatan kenal dengan Abah Yai Soleh, ya?”
“Kyai, beliau seorang Kyai?”, Sofyan kaget bukan main. ” Ya... ya, beliau teman sekelas saya semasa SMP.”
“Abah Yai itu orangnya sangat dermawan dan kaya, pak. Masjid ini beliau yang bangun.” tambah si anak muda.
“Abah Yai sangat rendah hati dan sederhana. Aku anak santrinya.” 
Kemudian berceritalah si anak muda, perihal kehidupan Soleh.

Ternyata Soleh adalah seorang pengusaha alat-alat listrik dan toko bangunan yang sukses. Ia mengakui bahwa kesuksesan yang di perolehnya ini adalah karena ia sangat menjaga sholat berjamaah dan mencintai masjid. Makanya, kala ia sukses, ia kemudian membangun masjid tersebut. Bahkan ia berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang shalat di masjidnya. Masya Allah. Sekejap, Sofyan dihinggapi rasa malu bukan main.

Sofyan telah merendahkan “jabatan” seorang marbot masjid. Ketika seseorang justru membanggakan dirinya sebagai pendiri atau pendana sebuah masjid, Soleh malah menyembunyikan amalnya. “ Ikhlas nian, sampean, Soleh”, kata Sofyan terenyuh dibalik istighfarnya.

Tanpa perlu meng-gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Allah bangga terhadap Soleh membuat ia bercahaya.


Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? 
(An-Nisaa’: 125)



JANGAN TERTIPU DENGAN PENAMPILAN


”Ketaqwaan seseorang tidak dilihat dari rupa maupun pakaiannya.
Manusia tidak dihargai dari bungkusan yang menutupinya, 
tetapi dari isinya, dari mutu keimanan 
dan dari akhlaq manusia yang ada didalamnya”
(Nabi Daud as.)

RIZQI DATANGNYA TAK DIDUGA

Pagi itu perutku protes minta diisi, maklum tadi malam saya tidak makan malam. Bagaimana mau makan sedang tidak ada yang bisa dimakan, saat itu kami berada di pinggir suatu hutan di Pandeglang, Banten. Perbekalan tinggal air mineral saja, tidak ada lagi makanan tersisa. Malam itu adalah malam terakhir kami disana, jadilah kami berpuasa hingga pagi.

KEAMPUHAN SYAHADAT


KEAMPUHAN SYAHADAT

Sebagai orang Muslim, qt sangat mengenal Syahadat, sebagai suatu ikrar atau ijab qobul seseorang pemeluk agama Islam. Sehingga siapapun yang dengan sungguh-sungguh, sadar dan ikhlas mengucapkan Syahadat, maka ia telah sah menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.

Selain sebagai ketentuan paling utama bagi seorang Muslim, Syahadat ternyata memiliki keampuhan luarbiasa lainnya. Pembuktian ini q alami sendiri dan tiga teman lainnya, ketika kami menyatakan diri bergabung dalam umat Rasulullah saw.

Ketika Nasrani, q adalah penggemar makanan B2(babi), rasanya tidak akan lahap bila tidak ada makanan yang satu itu. Setelah q muallaf, q diberi tahu, bahwa sebagai umat Muslim, haram hukumnya menyantap B2. Sehingga q berusaha mematuhinya, sampai saat ketika memasuki tiga bulan ke-muslim-an q.
Pada saat itu seperti seorang wanita sedang hamil muda yang mengidam, q ingin sekali menyantap makanan haram tersebut. Hasrat haram itu meletup-letup tidak terkendali didalam diri.

Akhirnya kaki ini membawa q memasuki sebuah restauran Cina dikawasan Darmawangsa, Jakarta Selatan. Lalu q memesan sepiring ’nasi campur’, masakan khas Cina, yang isinya bermacam olahan B2 seperti; sate, daging manis, ngohiang, dll. Bathin q mengatakan, ”Ya Allah, ampuni hambamu yang tak mampu menahan hasrat, hamba menyantap makanan haram ini untuk yang terakhir.”

Demikanlah q lalu menyantap makanan tersebut dan berusaha menikmatinya. Namun ketika akan memasuki suapan ketiga, mendadak q merasa mual dan pusing yang bukan main. Bergegas q kekamar mandi dan muntah. Semua yang baru q lahap tadi keluar dari mulut, semuanya tanpa tersisa, hingga tinggal air saja.

Selesai muntah, badan q menjadi lemas, rasa mual dan pusing tidak juga reda. Sadarlah q, bahwa Allah telah menjaga tubuh ini dari sesuatu yang haram, yang jelas-jelas tidak boleh dilanggar. Q-pun kemudian membayar makanan yang tidak lagi q sentuh itu, dan bergegas meninggalkan restauran tersebut sambil terus berucap ”Astagfirullahal adhim” tiada henti.

Tidak jauh berbeda dengan pengalaman tiga teman q lainnya. Mereka-pun memiliki kisahnya masing-masing;
1.      Teman pertama, muntah ketika menyantap B2 pada sebuah pesta pernikahan saudaranya, sebulan setelah menyatakan dirinya memeluk Islam.
2.    Teman kedua, muntah ketika mencoba menikmati ’hamburger’ di sebuah cafe di California, seminggu setelah ikrar Muslimnya.
3.     Sedang teman yang ketiga, jatuh sakit, hingga di rawat, setelah menyantap ’B2 guling’ dalam pesta Natal dirumah saudaranya, 5 bulan setelah Muallaf.

Peristiwa-peristiwa tersebut membuat hati q bertanya-tanya, sehingga hal ini q cetuskan kepada seorang ulama yang kemudian menjadi guru Muhasabah-q. Beliau berkata, ”Itulah keampuhan Syahadat, setiap badan yang telah mengakui Allah adalah satu-satunya Illah yang wajib disembah dan Muhammad adalah sungguh utusan-Nya, maka Allah akan menjaga badan yang fitrah itu dari ke-haram-an.”




”Jagalah Syahadat-mu, karena ia akan menjagamu dari kekufuran” 
(HR Abu Daud dan Tarmizi)




TUMA’NINA KUNCINYA KHUSYU


Adalah seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, ia sangat menjaga ke-wara’-an (kesucian) dan ke-khusyu’-an shalatnya. Tetapi ia selalu khawatir akan ke-khusyu’-an ibadahnya tersebut. Unuk itu ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi memperbaiki dirinya.

GHIBAH DAN BULU AYAM


Sahabat, ketika mendengar sebuah berita ’miring’ tentang saudara atau karib qt, apa reaksi qt pertama kali? Kebanyakan dari qt dengan sadarnya akan menelan berita itu begitu saja, bahkan ada juga yang dengan semangat ’45’ meneruskannya kemana-mana.

JIHAD BISA DIMANA SAJA

Seorang pengemis laki-laki buta duduk dibawah pohon beringin dekat Tugu Kujang, Bogor. Istrinya duduk sedikit jauh dibelakangnya. Pengemis ini meletakkan kopiahnya sebagai tempat uang, bagi orang-orang lewat yang iba padanya.

Hari itu sudah masuk Isya, ketika seorang pria jongkok disamping pengemis itu dan tengah menyampaikan sesuatu. Saya sedang berjalan menuju Tugu Kujang, tempat angkot 03 ngetem. Ketika saya melewati pengemis itu, terdengar sayup-sayup percakapan pemuda tadi dengan pengemis itu,"Kalau Bapak menerima Yesus sebagai juruselamat, pasti Bapak akan lebih baik dari sekarang."

Terusik hati saya mendengar perkataan pemuda tersebut, batin saya mengatakan, "Misionaris. Ini tidak bisa dibiarkan!" Segera saya mencari uang receh untuk saya berikan pada pengemis itu. Saya memilih uang receh, agar pengemis itu bisa mendengar gemerincingannya. Segera saya masukkan uang receh tersebut dengan menuangkannya agak tinggi kedalam kopiah agar pengemis itu mendengarnya.

"Alhamdulillahirrabbilalamin", ucap pengemis buta itu. 
Saya lalu menepuk-nepuk pundaknya sambil berkata, "Tetap Islam ya pak, Islam agama yang benar!" Tidak saya hiraukan pemuda yang jongkok tadi dan segera saya melanjutkan perjalanan saya.



Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Al-Ankabuut: 6)





ANTARA YANG TUA & YANG MUDA

Sebuah motor melaju kencang di sebuah jalan menurun di desa Tarik Kolot, Cimande, Bogor. Motor tersebut dikendarai seorang laki-laki paruh baya. Ia berusaha mendahului motor yang ada didepannya, tetapi tiba-tiba motor laki-laki ini oleng dan jatuh setelah menyerempet motor yang ingin didahuluinya tadi. Motor itu-pun akhirnya jatuh dan laki-laki tadi ikut tertiban motornya sendiri. Motor yang terserempet motor laki-laki paruh baya tadi tetap berjalan tanpa mengalami cedera sedikitpun. Namun ketika melihat motor laki-laki itu jatuh, ia-pun berhenti. Warga segera memberikan pertolongan pada laki-laki yang jatuh tertimpa motor tersebut.

MARAHLAH DENGAN SENYUM

Rasulullah saw pernah bersabda kepada istrinya Siti ‘Asiyah, “Aku tahu saat kau senang kepadaku dan saat kau marah kepadaku.” Siti ’Aisyah bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?” Beliau menjawab, ” Kalau kau sedang senang kepadaku, kau akan mengatakan dalam sumpahmu ’Tidak demi Tuhan Muhammad’. Akan tetapi jika kau sedang marah, kau akan bersumpah, ’Tidak demi Tuhan Ibrahim’.” Siti ’Aisyah pun menjawab, “Benar, tetapi demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak akan meninggalkan, kecuali namamu saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat, bila kita sedang dalam keadaan tidak senang, seperti kecewa, ataupun marah kepada orang yang terdekat dengan kita, entah itu; suami kita, istri kita, anak kita, bahkan orangtua kita… bisakah kita tidak menghitung sifat jeleknya, tetapi kebaikannya. Dan bisakah kita tidak menghitung kebaikan yang sudah kita berikan kepadanya, malah kita melihat kekurangan kita padanya?

DZUHUD DUNIA


Tersebutlah seorang hamba Allah, Amir namanya. Tengah ia sibuk menggembalakan domba-dombanya di padang rumput, datanglah seorang Cendekiawan Islam. Lalu terjadilah perbincangan diantara keduanya. Dari perbincangan itu, cendekiawan itu melihat keluasan ilmu DZUHUD penggembala itu.

KEBAIKAN TULUS

”Kebaikan yang tulus qt berikan kepada orang lain, pasti Allah balas ditempat yang lain.” 

Pagi itu, setelah pulang berbelanja di Pasar Bogor, q hendak pulang kerumah. Ketika sedang menunggu angkutan kota (angkot), seorang ibu dan anak laki-lakinya datang menghampiri q.

YA ALLAH (Sebuah Do'a)


Aku mengeluh pada Mu: "Hamba tak berdaya..."
Engkau berkata: "... janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah."
(Az-Zumar [39]: 53)

BAHASA TUBUH

Ternyata tidak hanya mulut saja yang bisa mengungkapkan isi hati;

1. KEPALA
- bila ia tertunduk, artinya bisa malu, merasa bersalah, takut atau tidak tahu...
- bila ia tengadah, artinya bisa bangga hati, bisa marah atau marah...
- bila ia menggeleng, artinya bisa tidak tahu atau heran.

KISAH KYAI & SUPIR ANGKOT


Seorang Kyai dengan mengenakan koko putih dan sarung kotak-kotak berwarna lembut serta kupluk dikepalanya, berjalan menuju pintu surga dengan penuh keyakinan, pasti ia akan segera masuk surga. Karena amal ibadah yang dilakukannya didunia sudah cukup untuk menjadi syarat bisa masuk surga.