Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Kamis, 27 September 2012

UJIAN DAN SYUKUR


Disebuah desa di kabupaten Lebak, Banten, tinggalah sebuah keluarga petani miskin. Sang ayah, Dullah, sehari-harinya bekerja sebagai buruh penyadap getah karet, sedangkan ibu, Jannah, hanya pedagang telur kampung keliling. Pasutri ini dikaruniai 3 orang putra remaja, yang semuanya cacat. Kaki ketiga remaja ini mengecil sejak usia kanak-kanak. Sehingga ketiganya tidak mampu untuk berjalan dan hanya mengandalkan kedua tangannya saja.

Sungguh mengenaskan sekali kehidupan keluarga ini, kemiskinan dan kelumpuhan yang menguji, seakan tidak pernah hengkang dari kehidupan mereka.
Sebenarnya ketiga putra Dullah dahulunya adalah anak-anak yang sangat lincah dan dinamis. Mereka sempat bersekolah, walau tidak satupun lulus sekolah dasar. Diusia 10 tahun mulailah satu-satu putra Dullah diserang penyakit aneh, kaki mereka mulai melemah, mengecil dan akhirnya lumpuh.

Walau demikian ujian yang Allah berikan kepada Dullah, Jannah dan putra-putra mereka, tidak membuat mereka mengeluh dan melupakan Allah SWT.
Dullah, sepulang menyadap getah karet dihutan, setiap menjelang shalat Ashar, ia menyapu, membersihkan dan mengumandangkan Adzan di masjid dekat rumahnya. Sedangkan Jannah, setia mengajarkan mengaji kepada anak-anak didesanya.
Putra-putra mereka, terkenal sebagi pelantun ayat-ayat Al-Qur’an yang terkenal fasih dan merdu suaranya.

Suatu ketika perusahaan yang menjadi tempat Dullah bekerja, mengadakan kunjungan ketempat tinggal Dullah yang reot dan memprihatinkan. Kunjungan ini berlanjut dengan bantuan sembako dan perbaikan rumah.

Bukan main sukacitanya hati Dullah atas rizqi yang datang beruntun. Puji dan syukur terus diucapkannya di dalam setiap shalat.

Bantuan itu sendiri bukanlah tanpa alasan. Perusahaan karet yang merasa puas atas hasil kerja Dullah merealisasikan rasa terimakasih mereka lewat bantuan-bantuan tadi.

Setelah rumahnya selesai diperbaiki, salah satu utusan perusahaan, datang dan bertanya kepada Dullah. ”Pak Dullah, setelah beberapa kemudahan dan ni’mat yang telah bapak terima ini, adakah lagi yang akan bapak minta kepada Allah dalam ibadah dan doa bapak?
Ada”, jawab Dullah setelah terdiam sejenak.
”Apakah itu, kalau boleh kami tahu?”, tanya utusan tadi.
”Bila Allah mengijinkan, aku ingin Allah memberikanku ujian lagi”, jawab Dullah.
”Masya Allah, aneh benar permintaanmu itu, pak. Biasanya orang berdoa, agar Allah memberikan lagi rizqi yang lebih banyak, lebih baik dan lebih barokah. Mengapa justru bapak berdoa seperti itu”, tanya utusan dengan wajah keheranan.
”Ujian juga sebuah rizqi, karena apapun yang Allah beri, semuanya adalah karena Rahmat dan RohimNya kepada ku. Dengan adanya ujian, membuat aku tetap sadar dan bersyukur. Ujian melatih aku untuk tetap kuat dan istiqomah. Dan ujian membuat aku lebih tuma’nina dan belajar dzuhud”, jawab Dullah dengan mata berkaca-kaca penuh syukur kepada Allah.
Utusan perusahaan itu lalu memeluk dan mencium tangan Dullah, atas kekagumannya pada hati dan ucapan Dullah.

Setiap diri pasti berharap hal-hal yang baik dan lebih baik.
Tidak satupun insan siap dan mau menerima
hal-hal yang buruk atau merugikan dirinya.

Karena bila peristiwa menyedihkan itu datang menghampiri,
manusia menjadi rapuh dan terkoyak.

Melatih diri menerima kekurangan,
menjadikan insan tahan uji.

Sehingga bila kebaikan datang menghampiri,
tidak menjadikan diri lupa untuk
tetap bersyukur, istiqomah, rendah hati dan tawakal.


"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku 
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, 
dan bersyukurlah kepada-Ku, 
dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)-Ku." 
(Al-Baqarah [2]: 152)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar