Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Senin, 16 Desember 2013

NASEHAT MUHASABAH

Shahabat,
Kala qt melihat seorang cacat dari lahir, qt merasa bersyukur karena qt lebih sempurna dari dia.
Sadarilah shahabat,
Rasa sempurna itu menurut mata qt, tetapi belum tentu dimata Allahu Akbar.
Allah yang mencipta, maka ciptaannya itu adalah yang terbaik dan sempurna.

Kala qt melihat seorang berpakaian Taqwa (kupluk/kopiah, koko dan sarung), qt menilai orang itu seorang yang alim.
Sadarilah shahabat,
Penampilan tidak menjamin ibadah seseorang.
Sedang ibadah seseorang juga belum tentu menjamin ahlakhul karimahnya.
Karena sesungguhnya hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang menentukan diterima tidaknya amal ibadah seseorang.

Kala qt mendengar seseorang berbuat kesalahan, qt menghakimi dia dengan segudang pandangan.
Sadarilah shahabat,
Selama qt masih hidup, Allah Ta’aalaa sendiri (yang menciptakan qt), tidak menghakimi qt atas perbuatan-perbuatan qt.
Lalu mengapa dengan semena-mena qt menghakimi sesama qt?

Kala qt bertemu orang yang tengah ditimpa musibah (sakit, kedukaan atau kesulitan), qt menghibur mereka dengan ucapan ’Sabar dan Ikhlas’.
Sadarilah shahabat,
Tidak satupun dari qt, bisa menerapkan ucapan itu sendiri disaat pertama, qt sendiri mengalami musibah.
Ketahuilah, kesabaran dan keikhlasan sejati hanya dapat dimiliki oleh mereka yang menang bertarung dengan ketakutan dan ego dunia.
Sebab Allah bukannya tidak meluluskan permintaan qt, tetapi Dia memenuhi apa yang qt butuhkan.

Kala qt melakukan sebuah kebaikan, qt merasa telah melakukan sebuah amal kebajikan.
Sadarilah shahabat,
Janganlah qt menghitung amal-amal yang telah qt buat, tetapi hitunglah amal kebajikan qt yang pasti diterima oleh Allahu Rabbi.
Sebab sebuah kebaikan belum tentu sebuah kebenaran, sebuah kebenaran belum tentu sebuah kehalalan, dan sebuah perbuatan yang halal tentu keabsahannya sesuai dengan ridha Allah SWT.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar