Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Senin, 06 Februari 2012

CERITA SI SERIBU PERAK

Awalnya aku licin dan gagah,
ketika aku digunakan untuk pembayaran,
dari tangan ke tangan,
berulang kali,
akhirnya aku lecek dan lusuh.


Tetapi rekanku si uang merah,
yang gambarnya Ir. Soekarno & Drs. M. Hatta,
walau digunakan untuk pembayaran,
dari tangan ke tangan,
berulang kali,
ia tetap gagah.

Mungkin memang sudah begitu ceritanya dalam kehidupan,
bahwa yang kecil, murah, mudah dan kurang berharga,
sepertinya sepele.

Sementara yang mahal, mewah dan berharga,
lebih diperhatikan dan terawat.

Lihat saja kaum jelata, kaum kecil.
sering dikucilkan, dianggap bodoh dan disepelekan,
oleh mereka yang borjuis dan beruang.

Tetapi aku boleh berbangga hati,
walau aku lecek dan lusuh,
manusia malas memalsukanku.

Aku juga senyum ketulusan,
para fakir,
para tukang parkir motor,
para pemulung,
para peminta sumbangan keliling,
para joki di perempatan jalan,
para pengamen...

Aku bangga menjadi bagian mereka,
aku bahagia bisa menjadi perantara rizqi mereka,
dan aku puas bersama kaum kecil.

Padahal tidaklah sampai nilai Rp. 100.000,-,
bila kurang Rp. 1.000,- saja.

Tidaklah ada orang borjuis,
bila tidak ada orang jelata.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar