Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Rabu, 23 Oktober 2013

AMALAN YANG DITERIMA ALLAH

Shahabat,
Ada sebuah nasehat guru q yang membuat q sangat terkesan,“Tolonglah siapapun dia, apalagi bila ia saudaramu (seagama). Yaqinlah bahwa Allah akan ganti menolongmu lewat orang lain”.
Salah satu teman q di padepokan, Handy namanya, termasuk santri yang rajin dan tekun. Walau cukup jauh tempat tinggalnya dari padepokan, namun setiap pengajian di malam Jum’at, ia usahakan untuk hadir dengan mengendarai motor tuanya.
Selain Handy, kegiatan pengajian juga dihadiri oleh beberapa ibu-ibu yang sudah sepuh. 
Tidak hanya pengajian rutin saja, tetapi juga dilanjutkan dengan membaca tahlil dan Suratul Yasiin. Kegiatan ini biasanya dimulai ba’da Isya’ dan rampung sebelum jam 12 malam. 
Nah disinilah, kisah itu bermula...

Setiap akan pulang, Handy terlihat terburu-buru hendak pulang, maklum jarak yang harus ditempuh untuk tiba di rumahnya memakan waktu 2 jam jika tidak ada halangan. Apalagi acara di padepokan selalu selesai hingga larut malam, mana besok pagi-pagi sekali, ia sudah harus berangkat bekerja.

Sementara ibu-ibu sepuh untuk pulang agak sulit mendapat kendaraan, maklum bila lewat jam 10, sudah tidak ada lagi ‘angkot’ yang melintas. Kadang mereka harus berjalan kaki cukup jauh, untuk mendapatkan kendaraan, seperti ‘odong-odong’, atau orang yang berbaik hati memberikan tumpangan.

Memang ada santri lain yang bersedia mengantarkan ibu-ibu ini, namun kendaraan sering tidak cukup. Oleh karena itu, beberapa kali q coba meminta pertolongan Handy untuk bersedia mengantarkan mereka.
Kalau hati sedang nyaman dan tidak ada tugas tambahan, Handy bersedia mengantarkan ibu-ibu tadi. Seringnya, ia berkeberatan dengan segudang alasan. Hal ini telah dipahami kami semua.
Seminggu yang lalu, dompet Handy hilang terjatuh dijalanan. Yang sangat memukul hatinya adalah SIM dan STNK motor yang ada didalam dompet, jadi ikut-ikutan hilang.
Saat pengajian malam Jum’at kemarin, ia curhat kepada kami tentang musibah tersebut. Kami hanya bisa menghibur dan membesarkan hatinya.

Anehnya, selesai acara pengajian, Handy justru menawarkan diri untuk ikut mengantar ibu-ibu sepuh pulang. Sempat hati q berucap, ”Tumben...”.

Jum’at sore, Handy mengirimkan sms untuk q, isinya,
”Alhamdulillah umi, dompet q ketemu lagi. Ternyata benda itu jatuh dijalanan sekitar Bojong Gede, Bogor. Ada orang yang menemukan dan mengantarkannya kembali pada saya. Subhanallah, isinya masih lengkap...”
-*-
Shahabat,
Kisah diatas menyadarkan q kembali akan nasehat guru q yang telah q paparkan diawal tulisan. 
”Maka baiklah, jangan qt menghitung amal yang telah qt perbuat. Tetapi marilah menghitung, amal yang telah Allah terima.”


WALLAAHU TA’AALAA A’LAM BISH SHAWAAB




Tidak ada komentar:

Posting Komentar