Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Selasa, 25 Oktober 2011

HURAIRAH SI KUCING YANG MALANG

Sebenarnya cerita ini mungkin sudah pernah dibaca atau didengar oleh para sahabat, namun bagiku kisah ini sungguh mendalam sekali hikmahnya. Aku sendiri telah beberapa kali mendengar dan membacanya, namun tetap saja aku menitikkan air mata. Harapanku semoga sahabat bisa mengambil pelajaran berarti dari kisah ini.
Dimalam itu cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan lebat dan angin keras membuat suasana bertambah dingin dan mencekam. Abdullah dan Aminah menjadi ragu untuk pergi menjenguk ibu Abdullah yang sedang kritis di rumah sakit. Pasalnya, putra semata wayang mereka Harun, yang masih balita, tidak ada yang menjaga.

”Lalu bagaimana dengan Harun, siapa yang akan menjaganya di rumah? Mana mungkin kita tinggalkan dia sendirian?”, tanya Abdullah dengan nada penuh keraguan.
“Jangan khawatir bang, kan ada Hurairah (kucing) di rumah. Dia saja kita suruh menjaga Harun”, jawab Aminah menenangkan hati suaminya.
“Betul kamu bu, mengapa aku tidak ingat pada si Hurairah”, balas suaminya lega. “Meong....” teriaknya kemudian. Maka terdengarlah suara Hurairah membalas suara tuannya. Lalu dengan langkah-langkah kecil dia mendekati tuannya.

“Hurairah, malam ini kamu tidak usah menjaga lumbung padi, kami berdua hendak pergi sebentar. Tolong jaga Harun ya”, kata Abdullah sambil mengelus kepala Hurairah.
Kucing pintar itu mengeong tanda mengerti kata tuannya. Kalau diartikan dalam bahasa manusia, “Jangan khawatir tuan, saya akan menunggu dan menjaga Harun agar tidurnya tetap nyenyak. Seekor nyamuk pun akan saya libas bila hinggap di tubuhnya.”

Setelah berpesan, berangkatlah PASUTRI ini. Hurairah dengan cepat melompat ke atas tempat tidur. Ia duduk di sebelah Harun yang tetap pulas. Ekornya dikibas-kibaskan agar nyamuk tidak mengganggu. Matanya yang tajam mengawasi sekelilingnya, sementara kedua kaki depannya siap mencakar siapa saja yang akan mengusik ketenangan majikan kecilnya.

Menjelang pukul sepuluh malam, tiba-tiba Hurairah mendengar bunyi mendesis dari samping tempat tidur. Dengan secepat kilat ia berjaga dan waspada. Ternyata seekor kobra tengah siap hendak menerkam majikan kecilnya. Ia pun langsung melompat, giginya langsung menghujam leher ular tersebut, dan cakarnya menyerang dengan buas. Ular membalas menyerang dengan hebat. Badan kucing pemberani itu dibelitnya dengan kuat, sambil mulutnya mematuk-matuk muka Hurairah.

Dengan segala kemampuan dan keperkasaannya, akhirnya Hurairah berhasil membunuh ular jahat tersebut. Dengan terhuyung-huyung ia kembali naik lke atas tempat tidur dan kembali menjaga Harun. Anak kecil itu tetap tidur nyenyak. Kucing itu menjilat-jilat lukanya, sementara rasa pedih dan letih terasa di sekujur badannya. Mulutnya masih penuh dengan darah ular tadi, sedangkan pada mukanya terdapat luka-luka yang menganga.

Pulanglah Abdullah dan Aminah. Walau dengan keletihan dan kesakitan yang sangat, Hurairah berusaha menyambut kedua tuannya itu. Tiba-tiba Aminah menjerit kaget melihat mulut kucingnya penuh darah, ”Bang....! Harun bang....!”
”Kenapa dengan Harun, Aminah?”, tanya Abdullah.
“Bang, lihat... Lihat mulut Hurairah, penuh darah. Pasti anak kita telah diterkam dan dibunuhnya”, tuduh Aminah. ”Jahat betul kamu Hurairah. Bang, bunuh Hurairah! Dia telah memakan anak kita!”
Tanpa berpikir panjang, Abdullah lalu mengambil besi. Dan dipukulnya dengan bertubi-tubi keseluruh tubuh kucing yang malang itu.

Maka bercucuranlah darah keluar dari kepala Hurairah. Badannya kejang-kejang kesakitan. Dan dengan diiringi air mata yang keluar dari bola matanya yang cantik, kucing setia itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Selesai membunuh Hurairah kedua PASUTRI ini bergegas masuk kedalam kamar. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat suasana didalam kamar. Di depan pintu tergeletak bangkai seekor ular kobra yang hampir putus lehernya. Lalu dengan hati berdebar-debar mereka berlari ke tempat tidur. Ternyata Harun masih tetap tertidur dengan nyenyak.

Barulah PASUTRI ini memahami apa yang telah terjadi selama kepergian mereka tadi. Bukanlah Hurairah yang bersalah, justru kucing itu telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan anak mereka. Seketika itu juga pucatlah wajah mereka. Hati mereka diliputi rasa penyesalan yang sangat dalam.

Ternyata Hurairah adalah kucing yang sangat setia. Ia tidak mempedulikan keselamatan dirinya demi tugas yang dipercayakan kepadanya. Nyawanya menjadi taruhan untuk menyelamatkan nyawa majikan kecilnya. Namun balasan yang diterimanya bukan belaian kasih sayang dan terima kasih, justru ia dibunuh dengan begitu kejam.

PASUTRI itu pun menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya, mereka lalu bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji untuk tidak lagi berbuat semena-mena. Bangkai Hurairah diangkat dan diciumnya, tapi yang sudah pergi tidak akan kembali, dan penyesalan mereka juga sudah tidak lagi berarti. Tinggalah hikmah pembelajaran yang kelak teruji seiring waktu selanjutnya.


Hai orang-orang yang beriman. Jika datang kepadamu orang fasik membawa sesuatu berita. Maka periksalah dengan teliti , agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Al-Hujurat: 6



Tidak ada komentar:

Posting Komentar