Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Kamis, 06 Oktober 2011

PILIHAN HATI


Tadi malam, cucu lelaki q yang baru lulus kuliah datang ke rumah, seperti biasa kedatangannya untuk ’curhat’ (mencurahkan isi hati).

Kali ini ia datang untuk menanyakan tentang dua wanita yang sedang ia dekati, sembari menunjukkan foto dari keduanya itu dan berkata, ”Menurut umi, mana yang paling baik untuk Fajar?”

Setelah q amati dua foto tersebut, q menjawab, ”Umi melihat dari sisi penampilan dalam kacamata awam, ya Fajar”, sambil menatap wajah cucu q. ”Umi memilih yang pakai jilbab.”
”Tuh kan, kenapa semua orang memilih yang pakai jilbab sih?”, tanya Fajar seperti tidak puas atas jawaban q.
”Yang pakai jilbab terlihat lebih alim, cantik dan menarik”, kata q menjelaskan. ”Tadi umi-kan sudah bilang, umi melihat dari penampilan awam.”
”Iya, tapi umi-kan nggak tahu sifat, sikap dan tingkah laku dia sebenarnya”, kata cucu q terlihat kecewa dengan pilihan neneknya.
”Berarti kamu suka dengan yang satunya lagi, ya? Yang berambut panjang dan manis”, tegas q kepadanya. ”Lalu kenapa kamu tanya umi, yang mana paling baik, sementara dihatimu kamu sebenarnya telah memilih?”
”Sekedar memastikan saja, apakah umi menyetujui pilihan Fajar”, kata cucu q seraya tersenyum.

Sahabat, percakapan diatas kelihatannya biasa saja, namun dari peristiwa itu q melihat suatu hikmah yang tidak biasa, yaitu PENAMPILAN dan HATI.

1.       PENAMPILAN
Umumnya, orang seusia q pada awalnya memberi penilaian dari sisi penampilan, karena tidak ada keterangan ataupun latar belakang dari seseorang yang baru qt lihat atau temui.
Sebagai contoh;
a.       Sebagai seorang muslim, antara yang berjilbab dan tidak. Pastilah qt memilih yang berjilbab.
b.      Sebagai seorang muslim, antara yang berbaju taqwa (koko, peci/kupluk dan sarung) dengan yang tidak. Pasti juga qt memilih yang berbaju taqwa.
c.       Yang berpakaian modis dan bersepatu/sandal bagus, dengan yang berpakai sekadarnya. Pastilah yang modis yang dipilih.
d.      Yang berkemeja rapih, pantalon dan bersepatu, dengan yang berkaos oblong, celana pendek dan bersendal jepit. Pastilah juga yang pertama pilihan qt.
e.       Yang sehat jasmani dan ruhani, dengan yang penyakitan atau cacat raga. Pasti yang sehat jasmani dan ruhani-nya.

Sulit rasanya pada pertemuan pertama tanpa kata-kata, qt dapat mengetahui sifat, sikap dan tingkah laku seseorang. Kecuali bila diberi hidayah Allah dengan indra ke-enam.

2.      HATI
Barulah ketika ada interaksi dan pertemuan-pertemuan berikut, qt dapat menilai orang tersebut berdasarkan sifat, sikap dan tingkah laku seseorang.

Benarlah pepatah klasik dari bahasa Jawa, ” Witing tresno jalaran soko kulino”, yang artinya ”Cinta atau kasih sayang itu tumbuh karena terbiasa.”
Atau pepatah ”Tak kenal maka tak sayang.”

Kedua pepatah diatas, jelas menerangkan kepada qt bahwa rasa atau hati bisa diketahui, ketika qt telah terbiasa ber-interaksi dengan seseorang.

Setiap qt, pastilah menginginkan yang terbaik, malah kalau bisa yang sempurna.
Sehingga acap kali qt berkata, ”Aku ingin yang soleh/solehah, baik hati, sayang, perhatian, penuh pengertian, bertanggung jawab, tampan/ayu, sehat, cerdas dan kaya.”
MASYA ALLAAH.
Padahal sebenarnya di lubuk hati masing-masing mengerti bahwa, tidak ada yang sesungguhnya sempurna. Hanyalah Allah Maha Sempurna.

Sahabat, walau secara teori lebih mudah diucapkan, sedangkan prakteknya kemungkinan lebih sulit. tetapi marilah mencoba, memahami dan menerima seseorang apa adanya, sambil berusaha untuk memperbaiki kekurangan yang ada.
Akan bertambahlah pahala qt bila dengan ketulusan hati dapat mengubah kekurangan seseorang menjadi lebih baik, bahkan bermanfaat bagi banyak orang.

Seorang terlahir;
-        lengkap dan sehat, jasmani dan ruhani,
-        cerdas dan berbakat,
-        cantik atau tampan,
-        kaya dan bangsawan,
Sempurnalah ia dimata manusia, belum tentu dimata Allah.

Seorang terlahir;
-        cacat dan berpenyakit.
-        biasa dan kurang berbakat,
-        muka pas-pasan bahkan jelek,
-        miskin dan jelata,
Sempurnalah ia dimata Allah, belum tentu dimata manusia.



”Sadarilah bahwa penilaian sempurna di mata manusia, tidak sama dengan penilaian sempurna di mata Allah SWT.”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar