Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Kamis, 28 Maret 2013

PENGGODA SYAITHAN

Marzuki, begitulah ia dipanggil, seorang pegawai kelurahan yang terkenal cerdas. Dan karena kecerdasannya itulah, walau belum genap 5 tahun bekerja, ia mendapat kesempatan menjadi juru bicara kelurahan. 3 tahun kemudian ia dicalonkan menjadi Lurah.

Saat Marzuki baru menjabat 2 tahun sebagai Lurah, ia dicalonkan lagi menjadi Bupati. Ketika Pilkada akan berlangsung, ia mencari jalan untuk mendapat suara terbanyak dengan cara yang kurang terpuji. Dimana setiap yang mencoblos gambarnya, diberikan uang Rp. 100.000,-. Alhasil terpilihlah ia menjadi Bupati.

Kelicikan tersebut ternyata sampai juga ketelinga mantan guru ngajinya di sebuah pesantren, dimana ia pernah 3 tahun menimba ilmu agama.
Kyai Musthofa, begitulah nama mantan guru sang Bupati, yang sengaja datang berkunjung kerumah pejabat itu.

Setelah berbicara sekedarnya Kyai kemudian bertanya ringan,
”Le, sampeyan tahu nda’ tugas dari Syaithan?”.
Ya, menggoda manusia agar jatuh dalam dosa, Yayi”, jawab Marzuki.
Sambil tersenyum, Kyai kembali bertanya, ”Nah, kalau syaithan bertugas menggoda manusia, lalu ’sopo’ yang menggoda syaithan, le?”.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Marzuki menggeleng, tanda tidak tahu.
”Sampeyan, le”, kata Kyai, masih tersenyum bijak.
”Lho koq aku, Yayi?”, tanya Marzuki tersentak kaget.

Kyai Musthofa dengan penuh kearifan lalu bertanya, ”Saat pilkada berlangsung, jujurkah mereka yang memilihmu, tanpa ada yang merekayasa?”. Mata sang Kyai tajam memandang Marzuki mencari jawaban. Yang ditanya hanya diam, tidak menjawab.
”Makanya tadi ku katakan, sampeyan yang menggoda syaithan. Pikiran licikmu telah mengundang syaithan untuk berperan lebih leluasa, menjebloskanmu kedalam neraka”, jelas Kyai dengan tegas.

Marzuki terhenyak lalu tertunduk malu. Ia tidak kuasa memandang wajah mantan gurunya itu. Sejuta rasa berkecamuk didalam dadanya. Lalu dengan perlahan hampir berbisik, ia berkata, ”Ampuni aku ya Allah, tobat aku, tobat... tobat...”

”Sebenarnya manusia juga
lah yang membukakan peluang bagi syaithan untuk masuk ke dalam pikiran dan hatinya.”
-Syekh Abu Shalih Musa-








Tidak ada komentar:

Posting Komentar