Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Minggu, 27 Januari 2013

DIKEJAR DOSA

Dikisahkan seorang shahabat Rasulullah saw. dari kaum Anshar, bernama Tsa'labah bin Abdurrahman ra. Ia begitu mahabah kepada Rasulullah. Apapun yang diperintahkan Rasulullah, dengan sigap dilaksanakannya.

Suatu saat, ketika Rasulullah memberikan suatu tugas, Tsa’labah berangkat menunaikan amanah tersebut. Dalam perjalanan, ia melalui sebuah kolam mandi untuk wanita. Tanpa sengaja dilihatnya seorang wanita tengah mandi telanjang dikolam tersebut.
Bukan main terkejut dan merasa berdosanya Tsa’labah akan apa yang telah dilakukannya itu. Ia langsung lari sekencang-kencangnya ke sebuah gunung yang terletak antara Mekah dan Madinah. 

Ditempat lain, Rasulullah tengah risau menanti kepulangan Tsa’labah. Hingga tiba hari yang ke-40, Malaikat Jibril as. datang menemui beliau, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang lelaki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku’.”
Segera setelah itu Rasulullah memerintahkan Umar bin Khaththab ra. dan Salman al-Farisi ra.,
"Wahai Umar dan Salman! Pergilah kalian mencari Tsa'labah bin Aburrahman, lalu bawalah ia kemari." 

Berangkatlah kedua shahabat Rasulullah menyusuri perbukitan Madinah. Di perjalanan mereka bertemu dengan seorang penggembala bernama Dzufafah.
"Apakah engkau tahu seorang pemuda Anshar yang datang ke perbukitan ini?", tanya Umar.
”Hmmm... Jangan-jangan yang kalian maksud adalah seorang lelaki yang berusaha lari dari neraka Jahanam?", jawab Dzufafah.
"Bagaimana engkau tahu bahwa dia tengah kabur dari neraka Jahanam?" tanya Salman.
"Karena bila malam tiba, ketika ia menemui kami, sambil meletakan tangannya di atas kepalanya sambil berkata,
’Mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menunggu seperti ini!’", jelas Dzufafah.
"Ya, sepertinya dialah yang kami maksud," ujar Umar.
Lalu berjalanlah mereka bertiga bersama-sama.
Akhirnya mereka berjumpa dengan Tsa’labah. Umar lalu menghampirinya dan memeluknya. 
"Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?", tanya Tsa’labah.
"Aku tidak tahu, yang jelas beliau menugaskan kami untuk mencarimu", jawab Umar.
”Bila kalian akan membawaku menemui Rasulullah, ku minta, pertemukanlah aku dengannya saat beliau shalat", pinta Tsa’labah.
Begitulah mereka menemukan Rasulullah tengah melakukan shalat. Mereka lalu bergabung mengisi shaf. Saat Tsa'labah mendengar bacaan Rasulullah, ia tersungkur pingsan. 
Selesai Rasulullah mengucapkan salam, beliau bersabda,
"Wahai Umar! Salman! Apakah yang terjadi pada Tsa'labah?" 
Keduanya menjawab, "Kami tidak tahu Rasulullah!"
Dengan segera Rasulullah lalu berusaha menyadarkan Tsa'labah, hingga ia sadar. 

Rasulullah lalu bertanya, "Mengapa engkau menghilang dariku, wahai Tsa’labah?"
"Dosaku, ya Rasulullah!", jawab Tsa’labah ketakutan.
"Bukankah telah ku ajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa dan kesalahan?", tanya Rasulullah lagi.
"Sudah, ya Rasulullah", jawab Tsa’labah tertunduk.
Rasulullah lalu bersabda,
"Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (Al-Baqarah [2]: 201)
Terlihat Tsa’labah semakin tertunduk dan gemetar, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar". 
Rasulullah bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar, wahai Tsa’labah".

Lalu Rasulullah mengantarnya pulang. Di rumah Tsa’labah jatuh sakit selama seminggu.
Rasulullah kemudian datang menjenguknya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuannya. Tetapi Tsa'labah malah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
”Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah.
"Karena dosaku berat, ya Rasulullah", rintih Tsa’labah.
”Seberat apakah yang kau rasakan itu?”, tanya Rasulullah lagi.
"Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging dan kulitku!", jerit Tsa'labah.
"Lalu apa yang kau inginkan, wahai Tsa’labah?", kembali Rasulullah bertanya.
"Ampunan Tuhanku", jawab Tsa’labah dengan muka memelas.
Saat itu juga Malaikat Jibril as. datang dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, 
‘Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula’.”
Kabar baik itu segera disampaikan Rasulullah kepada Tsa’labah. Begitu gembira hati Tsa’labah mendengar berita itu, hingga ia terpekik dan langsung wafat saat itu juga. 

Saat selesai menyalatkan jenazah Tsa’labah, Rasulullah terlihat berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai prosesi pemakaman, para shahabat bertanya, "Tadi kami melihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat. Mengapa, ya Rasulullah".
Rasulullah bersabda, "Demi Dzat yang telah mengutus aku! Tadi aku melihat banyaknya malaikat yang turut melayat Tsa'labah, hingga aku takut menginjak kaki mereka". 
Sahabat, sebuah pertanyaan hadir dibenak q, masihkah ada insan seperti Tsa’labah bin Abdurahman ra. di era modern ini? Dimana segala sajian pornografi dengan mudah ditemui. Baik melalui internet, dvd dan media elektronik canggih lainnya. 
Disaat Tsa’labah merasa dosa itu begitu berat dan besar, ketika dengan tidak sengaja menyaksikan seorang wanita tengah mandi telanjang. Justru saat ini, banyak diantara qt terlihat dengan sengaja asyik menonton pornografi, tanpa diiringi rasa berdosa. Bahkan yang lebih parah lagi, malah menjadi pelakon pornografi. 

ASTAGHFIRULLAAHAL ADHIIM, NA’UDZUBILLAAH TSUMAA NA’UDZUBILLAAH

Sumber: Kitab Kumpulan Kisah Teladan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar