Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Jumat, 11 Januari 2013

KISAH SANDAL DAN PENAMPILAN

Suatu pagi disebuah Toko Sandal, dipajanglah dua buah sandal santai untuk wanita, keluaran terbaru.
Yang satu dengan pernak-pernik warna diseluruh tubuhnya, ada merahjambu, birulangit, kuning, oranye dan hijau. Perpaduan warna nan cantik ba’ pelangi. Q namai dia PELANGI.
Sementara rekannya, hiasan ditubuhnya sungguh sederhana, cukup satu warna, yaitu coklat, dengan dipermanis dengan hiasa bunga diatasnya. Q sebut dia ALAMI.

Sambil menunggu pembeli datang, kedua sandal tersebut terlibat percakapan cukup serius.
PELANGI: “Mba’, aku mau tanya, kira-kira duluan aku atau mba’ yang dibeli ya?”
ALAMI: “Maaf jeng, aku kurang paham soal itu.”
PELANGI: “Aku rasa, dengan penampilanku yang seronok ini, rasanya aku yang lebih dulu dibeli deh, betulkan mba’.” (dengan nada sombong dan percaya diri)
ALAMI tidak membalas, hanya tertunduk.

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang ibu dengan anak gadisnya, dan melihat kedua sandal keluaran terbaru tersebut.
“Pilih yang kamu sukai, tapi ingat, paling nda’ cukup awet untuk dipakai, ya na’.” Pesan sang ibu pada anaknya.
Si anak lalu memilih PELANGI. Ditimang, diamati dan dicobanya sandal tersebut, lalu ia berkata pada ibunya, “Umi, aku memilih yang ini.” Seraya menunjukan sandal tersebut.
“Kenapa yang ini, kamu pilih, na’?”, tanya ibunya.
“Warnanya cantik dan enak dipakainya, mi”, jawab anaknya.
Lalu ibunya mengambil PELANGI, dan diamati sandal tersebut. Sejenak ibu tersebut berkata, “Na’, sandal ini betul cantik dan enak dipakai, tetapi tidak awet. Coba kamu lihat lemnya, paling juga satu bulan kekuatannya.” Sambil menunjukkan perekat pada sandal PELANGI.
“Sedang yang ini, (sambil mengambil ALAMI), memang dia terlihat sederhana, namun lihat kwalitas sendalnya, jauh lebih baik dari yang tadi”, lanjut sang ibu..
“Tapi aku nda’ suka warnanya, mi…” ucap anaknya.
“Sudah kamu coba belum? Coba saja dulu”, saran ibu kepada anaknya. Lalu ALAMI pun dikenakan dan dicoba.
“Hmmm… nyaman juga sandal ini, malah lebih enak dipakai dari yang tadi”, komentar si anak. “Tapi sayang warnanya… nda’ menarik.”
"Sekarang mana yang lebih kamu pilih, warnanya, enak dipakainya atau awetnya?”, tanya ibunya. “Kecuali kalau mau dibeli dua-duanya, tapi uang umi ndak cukup na’, maka pilihlah salah satu.”
“Ya sudah aku manut umi saja…”, kata si anak

Sahabat…
Kisah diatas menyadarkan q, bahwa banyak dari qt terpesona dan jatuh cinta pada penampilan awal. Entah karena kecantikan atau ketampanannya, entah karena pakaian atau propertinya.
Itulah rasa…, rasa yang lebih kepada NAFSU BADANI.
Tetapi bila telah akrab, barulah qt paham kwalitas yang bersangkutan.

Sahabat…
Sesungguhnya kwalitas diri seseorang adalah kunci utama sebuah hubungan..
Entah hubungan antara teman, sahabat, kekasih ataupun pasutri.
Nah, kwalitas diri ini baru dapat diketahui setelah qt akrab dengan yang bersangkutan.
Ini juga rasa, rasa yang lebih kepada HASRAT NURANI.

Pertanyaan q sekarang dapatkah HASRAT NURANI mengalahkan NAFSU BADANI?
Sehingga tidak jatuh cinta hanya pada awalnya saja, namun langgeng hingga ajal.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar