Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Senin, 12 September 2011

ANTARA YANG TUA & YANG MUDA

Sebuah motor melaju kencang di sebuah jalan menurun di desa Tarik Kolot, Cimande, Bogor. Motor tersebut dikendarai seorang laki-laki paruh baya. Ia berusaha mendahului motor yang ada didepannya, tetapi tiba-tiba motor laki-laki ini oleng dan jatuh setelah menyerempet motor yang ingin didahuluinya tadi. Motor itu-pun akhirnya jatuh dan laki-laki tadi ikut tertiban motornya sendiri. Motor yang terserempet motor laki-laki paruh baya tadi tetap berjalan tanpa mengalami cedera sedikitpun. Namun ketika melihat motor laki-laki itu jatuh, ia-pun berhenti. Warga segera memberikan pertolongan pada laki-laki yang jatuh tertimpa motor tersebut.


Tiba-tiba laki-laki paruh baya itu bangun lalu langsung menghampiri pengendara motor yang tadi diserempetnya dan langsung menghadiahkan tinju yang bertubi-tubi pada pemuda tersebut. Kontan sang pemuda-pun berusaha lari untuk menghindari pukulan tersebut. Laki-laki paruh baya tetap mengejar pemuda tersebut. Pemuda itu terus berlari hingga laki-laki itu akhirnya melepaskannya karena capek. Warga sekitar hanya terpaku menonton peristiwa itu, tanpa ada satupun yang berusaha melerai.

Melihat kejadian tersebut, timbul pertanyaan dalam hati saya, "Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar?" Bila disimak peristiwa diatas, menurut saya, sebenarnya yang salah adalah laki-laki paruh baya itu. Alasannya;
1. Ia yang berusaha mendahului motor pemuda tadi.
2. Ia yang menyerempet motor pemuda itu.
3. Ia yang jatuh sendiri akibat menyerempet tadi.

Tetapi yang ditinju, dikejar dan ketakutan; justru pemuda yang harusnya menjadi korban penyerempetan. Dan lebih menyedihkan adalah warga yang menyaksikan tidak satupun mau melerai atau mengatasi masalah tersebut.

Subhanallah, peristiwa diatas sungguh memberi hikmah mendalam bagi saya. Dimana, tidak selamanya semua orang yang lebih tua itu berlaku benar, seringkali mereka juga berbuat hilaf pada yang muda. Oleh karenanya marilah kita lebih introspeksi diri masing-masing, khususnya dalam Ramadhan ini. Bagi para orang tua, pernahkah kita meminta maaf kepada putra-putri kita, bila kita hilaf? Bagi para kakak, pernahkah kita meminta maaf kepada adik-adik, bila kita salah? Bagi para atasan, maukah kita mengulurkan tangan meminta maaf, ketika kita berbuat kekeliruan? Dan bagi para guru, pernahkah kita mengakui kekurangan kita kepada murid-muridnya?

Semoga goresan pena ini menjadi hikmah yang kelak bisa di jalankan oleh kita semua, sehingga perlahan namun pasti, kita bisa menjadi manusia yang lebih legowo dan tawaqul arasy.



Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah: 7-8)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar