Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Senin, 12 September 2011

GHIBAH DAN BULU AYAM


Sahabat, ketika mendengar sebuah berita ’miring’ tentang saudara atau karib qt, apa reaksi qt pertama kali? Kebanyakan dari qt dengan sadarnya akan menelan berita itu begitu saja, bahkan ada juga yang dengan semangat ’45’ meneruskannya kemana-mana.

Qt ceritakan aib saudara atau karib qt, sambil berbisik, ”Sst! Ini rahasia lho!.” Yang dibisiki akan meneruskan berita tersebut kepada yang lain, juga sambil berpesan, ”Ini rahasia lho!.”
MASYA ALLAAH!


Tidak hanya ‘rahasia pribadi’ orang lain saja yang qt umbar, bahkan ‘rahasia kamar’ pun sampai ke telinga sahabat qt, yang ‘sayang’nya juga punya sahabat, dan sahabat itu juga punya sahabat lagi.

SEPENGGAL KISAH
Seperti kisah seorang perempuan yang bernama Nur Hasanah. Sungguh indah sekali arti dari namanya yang berarti ’perempuan yang diliputi cahaya kebaikan’. Namun perbuatannya justru terbalik 180 derajat. Ia senang bergunjing. Sepanjang hari kerjanya membicarakan keburukan orang lain, seakan tidak ada kerja yang lebih penting dari bergunjing.

Suatu ketika seseorang yang digunjingkannya merasa tidak menerima sikap Nur tersebut. Orang ini-pun melaporkan perbuatan Nur kepada Ketua RT setempat. Nur-pun harus membayar perbuatannya, ia disidang dihadapan masyarakat desanya. Nur kemudian menyesali perbuatannya, tetapi tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan perbuatan jeleknya tersebut.

Singkat cerita Nur mendatangi seorang Kyai yang terkenal bijak, Nur lalu menceritakan permasalahannya. Sang Kyai lalu berkata, ”Pergilah ke pasar dan belilah seekor ayam. Kemudian dalam perjalanan pulang, cabuti bulunya dan sebarkanlah satu persatu di sepanjang jalan menuju rumahmu.”

Meski hatinya terkejut mendengar saran itu, Nur tetap melakukannya. Setelah itu, keesokan harinya Nur kembali mendatangi Kyai tersebut. Lalu sang Kyai berkata, ”Sekarang pergilah dan kumpulkan semua bulu yang sampean sebar kemarin dan bawa kembali kepadaku.”

Nur-pun menyusuri jalan yang sama dan mencoba mencari dan mengumpulkan bulu ayam yang telah dibuangnya kemarin, namun angin telah melemparkan semua bulu-bulu itu kemana-mana. Setelah mencari-cari selama berjam-jam, ia kembali dengan hanya membawa tiga lembar bulu saja.

”Lihat kan?”, kata sang Kyai. ”Sangat mudah menyebarkannya, namun sulit untuk mengumpulkannya kembali. Demikian pula dengan ghibah. Tidak sulit untuk bergunjing, namun sekali terlempar, sampean tidak akan mudah untuk memperbaiki kesalahan tersebut.”

PENCERAHAN
Khalil Gibran dengan baik melukiskan hal ini dalam syairnya,
“Jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan angin bila ia kabarkan kepada pepohonan.”

Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, “Maha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”

Rasulullah bersabda,
“Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.”

SARAN
Jadi sahabat, jauhilah ghibah, jagalah rahasia saudara atau karib qt dan janganlah qt merasa lebih baik dari mereka. Karena masing-masing qt memiliki ujian dan cobaannya masing-masing yang Allah berikan untuk menambah kwalitas ketaqwaan qt kepada-Nya.


 “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang 
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.”
(Al-Hujuraat [49]: 12b)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar