Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabaarakatuhu wamaghfiraatuhu waridhwaanuh

Senin, 12 September 2011

TUMA’NINA KUNCINYA KHUSYU


Adalah seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, ia sangat menjaga ke-wara’-an (kesucian) dan ke-khusyu’-an shalatnya. Tetapi ia selalu khawatir akan ke-khusyu’-an ibadahnya tersebut. Unuk itu ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi memperbaiki dirinya.
 
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid (ahli ibadah) bernama Hatim Al-Isam dan ia bertanya, “Wahai Aba (bapak terhormat) Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan shalat?”
Hatim menjawab. “Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu’ dzahir dan bathin.”
Isam bertanya lagi, “Bagaimana wudhu’ dzahir dan bathin itu?”

Lalu Hatim menerangkan, ”Wudhu’ dzahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sedangkan wudhu’ bathin ialah membasuh anggota dengan 7 perkara :
1.       Bertaubat.
2.      Menyesali dosa yang dilakukan.
3.       Tidak terperdaya nikmat dunia.
4.      Tidak mencari/mengharapkan pujian.
5.       Tinggalkan sifat sombong.
6.      Tinggalkan sifat khianat dan menipu.
7.       Tinggalkan sifat dengki atau iri hati”.

Hatim menambahkan lagi,
”Kemudian aku pergi ke masjid, aku bersiap shalat dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh hati-hati.
Pada saat itu, aku merasa:
1.       Allah ada di hadapanku.
2.      Surga di sebelah kananku.
3.       Neraka di sebelah kiriku.
4.      Malaikat maut berada di belakangku.
5.       Seperti berdiri di atas titian ‘Sirrathal Mustaqim’.
6.      Bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhirku.

Lalu aku pun berusaha tuma’nina (menikmati), seperti:
1.       Berniat dan bertakbir dengan baik.
2.      Setiap bacaan dan doa dalam shalat aku fahami maknanya.
3.       Ruku’ dan sujud dengan tawadhu’.
4.      Bertasyahud dengan penuh pengharapan.
5.       Memberi salam dengan ikhlas.

Beginilah aku bershalat selama 30 tahun”, demikian Hatim menyelesaikan uraiannya.

Tatkala Isam bin Yusuf selesai mendengar uraian tersebut, menangislah ia karena merasa ibadahnya masih kurang baik dibandingkan dengan Hatim Al-Isam.


“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. 
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, 
kecuali bagi orang-orang yang khusyu`.”
(Al-Baqarah [2]: 45)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar